Wimelimonica's Blog

November 1, 2015

Hitam

Filed under: Uncategorized — wimelimonica @ 5:06 pm

Hitam,

Saya tidak suka hitam, karena hitam itu gelap,pekat

Dan kamu suka hitam, sangat menyukasi hitam.

Kamu merengkuhnya, menjadi seperti kekasihmu. Diajak ke mana – mana

Aku suka kamu, dan tidak suka hitam

Namun kamu suka hitam, sangat

Apakah aku juga harus mulai suka dengan hitam, karena aku sungguh menyukaimu?

Biar bagaimana pun, tetap tidak bisa

Tidak suka, ya tidak suka

Sekarang kamu harus memilih, hitam atau aku?

Ya, kamu…kamu satu satunya orang yang berhak memilih

Kamu diam, seribu bahasa

Aku tahu artinya

Aku cukup tahu diri

Aku pamit, meninggalkanmu dengan hitam

Mei 26, 2009

Peran Keluarga Terhadap Perkembangan Karakter Anak

Filed under: Uncategorized — Tag:, , , , , — wimelimonica @ 7:56 am

Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)                Jumat, 30 Januari 2009

Tugas Akhir Mata Kuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah

Peran Keluarga Terhadap Perkembangan Karakter Anak

Dosen:

Dr. Ekawati S.Wahyuni

Dr. Pudji Mulyono

Ratri Virianita, S.sos., Msi.

Martua Sihaloho, S.P., Msi.

Disusun Oleh :

Monica/ I34070065

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

2009

Daftar Isi

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………… 1

Abstrak……………………………………………………………………………………………………… 2

BAB I

Pendahuluan………………………………………………………………………………………………. 3

BAB II

Fungsi Keluarga…………………………………………………………………………………………. 6

BAB III

Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Moral Anak………………………………..9

BAB IV

Peran Keluarga……………………………………………………………………………………….. .. 12

BAB V

Kesimpulan dan Saran………………………………………………………………………………..14

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………..15

Abstrak

Tulisan ini mengangkat topik mengenai keluarga. Pada tulisan ini diulas bahwa keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter seorang anak. Dalam tulisan ditemukan bahwa sebagai suatu sistem sosial terkecil, keluarga menanamkan nilai-nila moral dalam kepribadian seorang anak. Pada masa pertumbuhan, seorang anak memiliki banyak pertanyaan mengenai hal-hal yang dirasanya baru. Anak memiliki pertanyaan-pertanyaan kritis, disinilah dituntut kemampuan komunikasi yang baik yang harus dimiliki oleh setiap orang tua dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang anak. Keluarga sekarang memiliki fungsi yang lebih kompleks yang mencakup fungsi produksi serta konsumsi. Penulisan ini perlu dilakukan agar pembaca dapat memiliki pandangan bagaimana pengaruh keluarga terhadap perkembangan karakter seorang anak. Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter seorang anak.

Kata kunci : perkembangan karakter anak, sosiologi keluarga, psikologi anak

BAB I

Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Di semua masyarakat yang pernah dikenal, hampir semua orang hidup terikat dalam jaringan kewajiban dan hak keluarga yang disebut hubungan peran (role relations). Seseorang disadarkan akan adanya hubungan peran tersebut karena proses sosialisasi yang sudah berangsung sejak masa kanak-kanak, yaitu suatu proses dimana ia belajar mengetahui apa yang dikehendaki oleh anggota keluarga lain daripadanya, yang akhirnya menimbulkan kesadaran tentang kebenaran yang dikehendaki.(Goode, 1983)

Anak-anak memiliki dunianya sendiri. Hal iu ditandai dengan banyaknya gerak, penuh semangat, suka bermain pada setiap tempat dan waktu,tidak mudah letih, dan cepat bosan. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan selalu ingin mencoba segala hal yang dianggapnya baru. Anak-anak hidup dan berpikir untuk saat ini, sehingga ia tidak memikirkan masa lalu yang jauh dan tidak pula masa depan yang tidak diketahuinya. Oleh sebab itu, seharusnya orang tua dapat menjadikan realitas masa sekarang sebagai titik tolak dan metode pembelajaran bagi anak.(Zurayk, 1997)

Perkembangan karakter seorang anak dipengaruhi oleh perlakuan keluarga terhadapnya. Karakter seseorang terbentuk sejak dini, dalam hal ini peran keluarga tentu sangat berpengaruh. “Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Bagi setiap orang keluarga (suami, istri, dan anak-anak) mempunyai proses sosialisasinya untuk dapat memahami, menghayati budaya yang berlaku dalam masyarakatnya.” (Mudjijono, et al., 1995)

Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan merupakan pilar pokok pembangunan karakter seorang anak. Pendidikan dasar wajib dimiliki tidak hanya oleh masyarakat kota, tetapi juga masyarakat pedesaan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung lebih dihormati karena dianggap berada strata sosial yang tinggi. Kualitas seseorang dilihat dari bagaimana dia dapat menempatkan dirinya dalam berbagai situasi.

“Manusia Indonesia yang berkualitas hanya akan lahir dari renaja yang berkualitas, remaja yang berkualitas hanya akan tumbuh dari anak yang berkualitas.” (TOR dalam Mudjijono,et al., 1995). Keluarga sebagai lembaga sosial terkecil memiliki peran penting dalam hal pembentukan karakter individu. Keluarga menjadi begitu penting karena melalui keluarga inilah kehidupan seseorang terbentuk.

Sebagai lembaga sosial terkecil, keluarga merupakan miniatur masyarakat yang kompleks, karena dimulai dari keluarga seorang anak mengalami proses  sosialisasi. Dalam keluarga, seorang anak belajar bersosialisasi, memahami, menghayati, dan merasakan segala aspek kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai kerangka acuan di setiap tindakannya dalam menjalani kehidupan.

Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan moral dalam keluarga mulai luntur. Arus globalisasi menyerang di segala aspek kehidupan bermasyarakat, tidak hanya masyarakat kota tetapi juga masyarakat pedesaan. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran kelurga sangat besar sebagai penentu terbentuknya moral manusia-manusia yang dilahirkan.

I.2 Perumusan Masalah

1. Apa fungsi keluarga?

2.  Bagaimana pengaruh keluarga terhadap perilaku moral anak?

3. Bagaimana peran keluarga terhadap pembentukan karakter anak?

I.3 Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan mengenai fungsi keluarga.

2. Menjelaskan mengenai pengaruh keluarga terhadap perkembangan karakter seorang anak.

3. Menjelaskan peran keluarga dalam pembentukan karakter anak.

I.4 Kegunaan Penulisan

1. Sebagai media informasi bagi pembaca agar dapat membuka cakrawala mengenai pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga.

2.  Sebagai sarana pembelajaran mengenai hubungan antara pendidikan dalam keluarga terhadap perkembangan karakter anak.

BAB II

Fungsi Keluarga

Sebagai sistem sosial terkecil, keluarga memiliki pengaruh luar biasa dalam hal pembentukan karakter suatu individu. “Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang dan pangan. Setiap keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka dapat hidup lebih senang dan tenang.”[1] Keluarga memiliki definisi tersendiri bagi orang Jawa. “Bagi orang Jawa, keluarga merupakan sarung keamanan dan sumber perlindungan.”[2] Hildred Geertz memberikan suatu gambaran ideal suatu keluarga sebagai berikut :

(…) bagi setiap orang Jawa, keluarga yang terdiri dari orang tua, anak-anak, dan biasanya suami atau istri merupakan orang-orang tepenting di dunia ini. Mereka itulah yang memberikan kepadanya kesejahteraan emosional serta titik keseimbangan dalam orientasi sosial. Mereka memberi bimbingan moral, membantunya dari masa kanak-kanak menempuh usia tua dengan mempelajari nilai-nilai budaya Jawa. Proses sosialisasi adalah suatu proses kesinambungan di sepanjang hidup diri pribadi (…)(1983:7)

Pengertian keluarga juga dapat dilihat dalam arti kata yang sempit, sebagai keluarga inti yang merupakan kelompok sosial terkecil dari masyarakat yang terbentuk berdasarkan pernikahan dan terdiri dari seorang suami (ayah), isteri (ibu) dan anak-anak mereka. Sedangkan keluarga dalam arti kata yang lebih luas misalnya keluarga RT, keluarga komplek, atau keluarga Indonesia. (Munandar, 1985).

Keluarga menjalankan peranannya sebagai suatu sistem sosial yang dapat membentuk karakter serta moral seorang anak. Keluarga tidak hanya sebuah wadah tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Sebuah keluarga sesungguhnya lebih dari itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Berawal dari keluarga segala sesuatu berkembang. Kemampuan untuk bersosialisasi, mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang.

Keluarga merupakan payung kehidupan bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi seorang anak. Beberapa fungsi keluarga selain sebagai tempat berlindung, (Mudjijono, et al., 1995) diantaranya :

a)      Mempersiapkan anak-anak bertingkah laku sesuai dengan niai-nilai dan norma-norma aturan-aturan dalam masyarakat dimana keluarga tersebut berada (sosialisasi).

b)      Mengusahakan tersekenggaranya kebutuhan ekonomi rumah tangga (ekonomi), sehingga keluarga sering disebut unit produksi.

c)      Melindungi anggota keluarga yang tidak produksi lagi (jompo).

d)     Meneruskan keturunan (reproduksi).

Menurut Kingslet Davis dalam Murdianto (2003) menyebutkan bahwa fungsi keluarga ialah :

a) Reproduction, yaitu menggantikan apa yang telah habis atau hilang untuk kelestarian sistem sosial yang bersangkutan.

b) Maintenance, yaitu perawatan dan pengasuhan anak hingga mereka mampu berdiri sendiri.

c)      Placement, memberi posisi sosial kepada setiap anggotanya, baik itu posisi sebagai kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga, atau pun posisi-posisi lainnya.

d) Sosialization, pendidikan serta pewarisan nilai-nilai sosial sehingga anak-anak kemudian dapat diterima dengan wajar sebagai anggota masyarakat.

e)   Economics, mencukupi kebutuhan akan barang dan jasa dengan jalan produksi, distribusi, dan konsumsi yang dilakukan di antara anggota keluarga.

f)       Care of the ages, perawatan bagi anggota keluarga yang telah lanjut usianya.

g) Political center, memberikan posisi politik dalam masyarakat tempat tinggal.

h)         Physical protection, memberikan perlindungan fisik terutama berupa sandang, pangan, dan perumahan bagi anggotanya.

Bila seorang anak dibesarkan pada keluarga pembunuh, maka ia akan menjadi pembunuh. Bila seorang anak dibesarkan melalui cara-cara kasar, maka ia akan menjadi pemberontak. Akan tetapi, bila seorang anak dibesarkan pada keluarga yang penuh cinta kasih sayang, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi cemerlang yang memilki budi pekerti luhur. Keluarga sebagai tempat bernaung, merupakan wadah penempaan karakter individu.

Pada masa sekarang ini, pengaruh keluarga mulai melemah karena terjadi perubahan sosial, politik, dan budaya. Keadaan ini memiliki andil yang besar terhadap terbebasnya anak dari kekuasaan orang tua. Keluarga telah kehilangan fungsinya dalam pendidikan. Tidak seperti fungsi keluarga pada masa lalu yang merupakan kesatuan produktif sekaligus konsumtif. Ketika kebijakan ekonomi pada zaman modern sekarang ini mendasarkan pada aturan pembagian kerja yang terspesialisasi secara lebih ketat, maka sebagian tanggung jawab keluarga beralih kepada orang-orang yang menggeluti profesi tertentu[3].

Uraian tersebut cukup menjelaskan apa arti keluarga yang sesungguhnya. Keluarga bukan hanya wadah untuk tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Lebih dari itu, keluarga merupakan wahana awal pembentukan moral serta penempaan karakter manusia. Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam menjalani hidup bergantung pada berhasil atau tidaknya peran keluarga dalam menanamkan ajaran moral kehidupan. Keluarga lebih dari sekedar pelestarian tradisi, kelurga bukan hanya menyangkut hubungan orang tua dengan anak, keluarga merupakan wadah mencurahkan segala inspirasi. Keluarga menjadi tempat pencurahan segala keluh kesah. Keluarga merupakan suatu jalinan cinta kasih yang tidak akan pernah terputus.

BAB III

Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Moral Anak

Papalia dan Old (1987) dalam Hawadi (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap :

  1. Masa Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
  2. Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.
  3. Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
  4. Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
  5. Masa remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.

Anak-anak sering bertanya tentang banyak hal, baik yang berhubungan dengan hal-hal yang faktual maupun yang fiktif. Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi anak-anak, merupakan ekspresi dari rasa ingin tahu dan menyibak keraguannya, sehingga anak tersebut terdorong untuk mengajukan pertanyaan. Hal ini merupakan kebutuhan psikis alamiah yang dinamakan dengan istilah “cinta meneliti.”(Zurayk, 1997)

Cinta meneliti ini merupakan salah satu pertanda anak yang cerdas. Anak cerdas selalu ingin tahu dan terangsang untuk memcahkan masalah yang baru ditemukannya. Dengan begitu, ia dapat mencoba hal-hal baru dan menciptakan produk-produk pemikiran bagi dirinya sendiri. Gardner (2005) dalam Amstrong (2005), mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya.

Anak-anak mulai berpikir kritis dimulai ketika mereka menuju pada panguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian, yaitu pada masa tatih (diatas 18 bulan). Pada masa ini anak-anak mulai mengenal bahasa dan tertarik untuk mempelajarinya. Berbagai pertanyaan kritis mulai terlontar.[4]

Seiring dengan pertanyaan yang keluar dari bibir mungil seorang anak, disinilah peran orang tua bermain. Orang tua dapat menjawab segala pertanyaan anak dengan jawaban yang sebenarnya atau jawaban fiksi yang merupakan karangan orang tua. Orang tua dituntut untuk dapat memberi jawaban yang dapat memuaskan hati seorang anak, sekalipun jawaban itu dirasanya sangat sulit dipahami oleh anak karena pertanyaannya yang bersifat sensitif. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan dari seorang anak, pendidikan mengenani moral dan budi pekerti dapat ditanamkan.

Penanaman moral pada diri seorang anak berawal dari lingkungan keluarga. Pengaruh keluarga dalam penempaan karakter anak sangalah besar. Dalam sebuah keluarga, seorang anak diasuh, diajarkan bebagai macam hal, diberi pendidikan mengenai budi pekerti serta budaya. Setiap orang tua yang memiliki anak tentunya ingin anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia cerdas yang memiliki budi pekerti baik agar dapat menjaga nama baik keluarga.

Anak bukan lah orang dewasa, ia memiliki sifat-sifat yang khas. Seorang anak melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir dengan bentuk yang khas, namun tidak keluar dari logika dan perasaan yang sehat. Misalnya, anak-anak itu melihat, mendengar, dan berperasaan sebagaimana orang tua melihat, mendengar, berperasaan, dan berpikir. Karena itu, orang tua seharusnya mempergauli anak-anak berdasarkan pada anggapan bahwa dia adalah anak-anak. Sebagaimana dikatakan, “Pemuda tidak akan menjadi pemuda yang sebenarnya selama masa kanak-kanaknya tidak menjadi anak-anak yang sebenarnya.”[5]

Keluarga memberikan pengaruh pada pembentukan budi luhur bagi seorang anak. Salah satu ciri anak yang berbudi luhur adalah selalu menunjukkan sikap sopan dan hormatnya pada orang tua. Budi luhur yang melekat pada setiap orang bukan datang dengan sendirinya, melainkan harus diciptakan. Terutama dalam keluarga dan bukan merupakan keturunan. Dengan kata lain, budi luhur tidak merupakan keturunan melainkan merupakan produk pendidikan dalam keluarga, merupakan perpaduan antara akal. Kehendak, dan rasa.

Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pergeseran nilai-nilai kebudayaan pada masyarakat. Siaran-siaran televisi kembali menjadi salah satu faktor penyebab lunturnya nilai-nilai tersebut. Hadirnya televisi telah merebut perhatian anak terhadap orang tua. Anak seringkali mengabaikan nasihat yang diberikan oleh orang tua dengan alasan nasihat tersebut terkesan kuno. Dalam kondisi demikian, seorang anak tidak mengetahui yang sebenarnya mengenai nilai-nilai yang seharusnya diberikan orang tua kepada anaknya.

Pada masa sekarang, intensitas bertemu antara anak dengan orang tua sangatlah sempit. Oleh karena itu, orang tua harus mampu membagi waktu dengan baik dan mencari saat-saat yang tepat untuk menyelipkan pelajaran mengenai budi pekerti luhur. Pada saat makan malam misalnya, atau pada saat menonton televisi bersama, sambil membimbing.

Kejujuran merupakan hal terpenting bagi individu dalam menjalani hidup, dan tahap awal penanaman sikap jujur dimulai dari keluarga. Penanaman sikap jujur dalam keluarga dapat dimulai dari perilaku orang  tua yang selalu bersikap dan berkata jujur. Dengan begitu, maka akan lebih mudah bagi seorang anak menanamkan sikap jujur pada dirinya karena tidak pernah merasa dibohongi. Dalam suatu keluarga, tidak dapat dipungkiri bahwa sesekali seorang anggotanya melakukan suatu kebohongan. Seseorang melakukan suatu kebohongan biasanya disebabkan oleh rasa takut karena dianggap melakukan kesalahan atau sedang menyembunyikan sesuatu. Dalam banyak hal, sebaiknya orang tua mendengarkan pendapat anaknya, karena bagaimana pun komunikasi dalam keluarga harus tetap berlangsung dengan baik.

BAB IV

Peran Keluarga

“(…)Masa kanak-kanak merupakan masa yang begitu penting untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika seorang anak kelak menjadi dewasa. Karena itu, kualitas pada pola-pola perkembangan masa anak adalah sangat penting.” (Gunarsa, 2001)

“Keluarga memiliki peranan utama didalam mengasuh anak, di segala norma dan etika yan berlaku didalam lingkungan masyarakat, dan budayanya dapat diteruskan dari orang tua kepada anaknya dari generasi-generasi yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.” (Effendi, et al., 1995)

Keluarga memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan moral dalam keluarga perlu ditanamkan pada sejak dini pada setiap individu. Walau bagaimana pun, selain tingkat pendidikan, moral individu juga menjadi tolak ukur berhasil tidaknya suatu pembangunan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memegang peranan penting serta sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan intelektualitas generasi muda sebagai penerus bangsa. Keluarga, kembali mengmbil peranan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berbagai aspek pembangunan suatu bangsa, tidak dapat lepas dari berbgai aspek yang saling mendukung, salah satunya sumber daya manusia. Terlihat pada garis-garis besar haluan negara bahwa penduduk merupakan sumber daya manusia yang potensial dan produktif bagi pembangunan nasional. Hal ini pun tidak dapat terlepas dari peran serta keluarga sebagai pembentuk karakter dan  moral individu sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat memerlukan adanya sumber daya manusia yang berkualitas baik. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas baik tentunya memerlukan berbagai macam cara. Salah satu diantanya adalah melalui pendidikan. Pendidikan baik formal maupun informal. Pendidikan moral dalam keluarga salah satunya.

Walaupun memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, tetapi rendah dalam hal moralitas, individu tidak akan berarti dimata siapa pun. Pendidikan moral dimulai dari sebuah keluarga yamng menanamkan budi pekerti luhur dala setiap interaksinya. Sumber daya manusia berkualitas dapat dilihat dari keluarganya. Bukan hanya keluarga mampu dari segi materi, yang dapat meningkatkan kualitas individunya melalui tambahan-tambahan materi pembelajaran di luar bangku sekolah. Akan tetapi, keluarga sederhana di desa pun dapat menjamin kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya dan keluhuran budi pekerti merupakan hasil tempaan orang tua.

BAB V

Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari keluarga bahagia. Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai ketika ia mulai mengenal bahasa.

Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui orang tua. Hal ini yang dapat membentuk karakter anak di masa depan.

5.2 Saran

Orang tua merupakan panutan bagi anak-anaknya, untuk itu sebaiknya orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua juga harus membuka diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi saat ini. Anak-anak memiliki pemikiran yang kritis terhadap sesuatu yang baru. Bila orang tua tidak membuka diri terhadap perkmbangan yang ada, kelak akan menuai kesulitan dalam menjawab pertanyaan dari anak. Pada akhirnya berbuah kebohongan dan secara tidak langsung menanamkannya pada anak.

Daftar Pustaka

Armstrong, Thomas. 2005. Setiap Anak Cerdas. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Effendi, Suratman, Ali Thaib, Wijaya, Dan B. Chasrul Hadi. 1995. Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Jambi: Departemen Pendidikan dan Kebudayan.

Geertz, Hildred. 1983. Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti Pers.

Goode, William J. 1983. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bina Aksara.

Gunarsa, Singgih D. Menyikapi Periode Kritis Pada Anak dan Dampaknya Pada Profil Kepribadian tahun 2001 dalam Psikologi Perkembangan Pribadi dari bayi sampai lanjut usia. Editor: S. C. Utami Munandar. Jakarta: UI Press. 2001.

Hawadi, Reni Akbar. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Grasindo.

Mudjijono, Hermawan, Hisbaron, Noor Sulistyo, dan Sudarmo Ali. 1996 . Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

.Munandar, Utami. 1983. Emansipasi dan Peran Ganda Wanita Indonesia: Suatu Tinjauan Psikologis. Depok: UI Press.

Murdianto, Utomo, Bambang S. 2003. Modul Mata Kuliah Sosiologi Pedesaan. Bogor: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB.

Zurayk, Ma’ruf. 1997. Aku dan Anakku. Bandung: Al-Bayan (Kelompok Penerbit Mizan).


[1]Singgih Gunarsa (1976:9)  dalam Mudjijono, et al. Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996), hal. 9

[2] Magnis Suseno (1993:163), dalam Mudjijono, et al. Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996), hal. 5

[3] Ma’fur Zurayk. Aku dan Anakku (Bandung: Al-Bayan (Kelompok Penerbit Mizan), 1997)  hal. 21.

[4] Berdasarkan pada analisis pribadi penulis

[5] ibid., hal. 15

Terima Kasih

Filed under: cerpen — wimelimonica @ 6:52 am

Perlahan semuanya menjauh, bayang-bayang yang selalu hadir dalam hidupku hilang kini, yang nampak hanya wajah-wajah murung dan hampa tanpa suara. Entah kenapa hidupku kini tak berwarna, dengan langkah gontai ku telusuri jalan pantai ini. Senggigi yang sungguh indah dengan pasir putih lembutnya dipayungi indahnya langit sore hari. Diselingi semilir angin yang menyisir lembut kulitku.

Rasa takut menghantui pikiranku, masa depan yang menanti di depan mata, penantian orang tuaku di rumah yang berharap buah hatinya kembali ke peraduan dengan gelar sarjana di tangan dan selembar ijazah yang berisi nilai-nilai yang memuaskan.

Akan tetapi, semuanya hanya angan-angan yang tertinggal di belakang, mimpi-mimpi yang dulu kuukir telah musnah sekarang. Betapa tidak diriku sudah terlampau berumur untuk disebut mahasiswa, pendidikan empat tahun yang harusnya sudah kuselesaikan dua tahun kemarin kini hanyalah angan, apa yang dapat diharapkan oleh seorang mahasiswa yang terancam Drop Out (DO).

Hari ini kulupakan sejenak tentang mimpi burukku. Akh, buat apa terlalu dipikirkan selagi diri ini bisa menikmati hidup yang indah. Kuarahkan pandangankku ke depan, mataku menangkap sesosok nelayan yang sedang bersiap melaut. Kuhampiri nelayan itu, nampaknya sedang sibuk menyiapkan perahu yang akan dipakai untuk berlayar petang ini.

“Maaf pak, boleh saya membantu, bapak sepertinya sedang sibuk?” Dengan sopan aku menawarkan diri. Nelayan tersebut menoleh kearahku dan berkata, “Anak muda, boleh-boleh sekali, tolong saya mengencangkan tiang layar ini.” Kulihat tiang layarnya dan kucoba memenuhi perintahnya, “Oh, ini pakunya sudah karatan pak, harus segera diganti dengan yang baru.”Sambil kucoba membenahi tiang itu dengan segala cara yang bisa kulakukan.

“Iya de, sepertinya memang begitu, seharusnya tiangnya juga diganti karena sudah rapuh.

” Kulihat tiangnya memang begitu keadaannya, sudah sangat rapuh dan harus segera diganti, tak terbayangkan ketika sedang berlayar mencari ikan di tengah laut lalu tiangnya roboh, tak terbayangkan juga bahaya yang akan mengancam di tengah laut yang sepi

. “Kenapa tidak diganti saja dengan tiang yang baru pak?” Rona wajahnya langsung berubah, agak segan juga menanyakan hal itu padanya. Nelayan itu tersenyum hangat “Ya, memang niatnya nanti akan saya ganti tiang itu dengan yang baru, tapi nanti setelah istri saya keluar dari rumah sakit.” Demikian jawabnya, diriku agak tersentak mendengar hal itu, semakin tidak enak hati.

“Maaf pak.” Spontan aku meminta maaf padanya, tetapi nelayan itu lagi-lagi tersenyum hangat padaku.

“Terima kasih de, sudah mengingatkan dan ade tidak perlu meminta maaf pada saya.” Masih sambil membenahi perahunya dia berkata,”Hidup ini adalah terima kasih.” Aku masih mencerna kata-kata nelayan itu.

”Hidup ini terima kasih, apa maksudnya?” Nelayan itu kembali tersenyum,”Hmm…anak muda sudah maghrib rupanya, sudah waktunya bercinta dengan kekasih lekas kita ke surau di sebelah timur itu memenuhi panggilan sang kekasih.”Sesungguhnya aku masih bingung dengan maksud nelayan tadi, dengan rasa penasaran ku ikuti langkahnya menuju surau untuk menunaikan ibadah shalat maghrib yang sering kutinggalkan. Seusai berwudhu kami shalat berjamaah di surau yang kecil namun memberikan suasana hangat yang meneduhkan jiwa. Tanpa sengaja ku meneteskan air mata di tengah jalannya shalat, lantunan ayat suci yang dibacakan imam membuat hatiku bergetar dan membuatku tersadar betapa seringnya aku meninggalkan kewajiban ini.

Usai shalat, nelayan itu beranjak keluar surau menuju beranda, kuikuti langkahnya karena diriku masih penasaran akan maksud dari perkataan nelayan tadi. Kuhampiri beliau dan kutempatkan diriku tepat disampingnya,

“Alhamdulilah.” Nelayan itu bergumam. Rasa penasaran mengalahkan kesabaranku, aku mulai bertanya “Pak, apa maksud dari perkataan bapak tadi bahwa hidup itu adalah terima kasih?” Nelayan itu menoleh ke arahku lagi-lagi sambil menampakan senyumnya yang hangat, diawali dengan menghela napas, beliau mulai menjawab pertanyaanku.

“Sebelum saya menjawab pertanyaan adik, boleh saya tahu nama adik ini siapa?” Dengan segera kujawab “Nama saya Dirga pak”. Nelayan itu tersenyum sambil mengangguk.

“Hmm..Nama yang bagus”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Nelayan itu melanjutkan bicara, “Begini maksudnya anak muda, hidup ini terima kasih. Kita biasa mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah memberi kebaikan pada kita, tapi mengapa tidak ada terima kasih untuk sebuah musibah? Padahal kedua hal itu tidak jauh berbeda hanya prosesnya saja yang berbeda, suka cita adalah kebahagiaan yang kita terima secara langsung dan menyenangkan hati, lalu apa itu duka cita? Duka cita hanyalah suka cita yang terselubung, berasal dari sumber yang sama dengan sukacita yang menghasilkan air mata tapi juga melahirkan tawa.

”Kucermati benar-benar maksud dari nelayan itu. “Mengapa kita harus mengucapkan terima kasih juga pada musibah yang kita terima?” Masih agak sulit diriku mencerna maksud nelayan tadi.

“Ya, bukankah dukacita juga akan melahirkan tawa, hanya saja berbeda proses jalan yang ditempuh kebih rumit dan memerlukan kesabaran serta ikhtiar yang tiada henti. Dalam hidup ini, hanya kasihNya yang kita dapat baik itu dalam bentuk sukacita maupun dukacita. Yakinlah anak muda bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah perwujudan dari rasa cinta kasihNya pada makhluk ciptaaNya. Sebagai contoh ialah makanan yang kita makan setiap hari merupakan wujud cinta kasihNya, rasa lapar yang tak tertahan juga merupakan bentuk cinta kasihNya, Dia ingin kita dapat merasakan rasa lapar yang sering dirasakan oleh manusia yang biasa tinggal di pinggir jalan dan di bawah jembatan. Secara tidak langsung Dia mengajarkan kepekaan hati dan rasa cinta kasih pada sesama. Keberhasilan yang kita raih merupakan bentuk kasihNya, sama halnya dengan kegagalan, juga merupakan bentuk cinta kasihNya pada kita. Begitulah anak muda.”

Nelayan itu menyudahi penjelasannya dan sekaligus membuyarkan renunganku tentang hidupku selama ini yang sudah hampir hancur. Nelayan itu beranjak dari tempatnya semula lalu berjalan menuju perahunya, kubuntuti dari belakang. “Nah, anak muda sudah waktunya saya berlayar menjalani peran hidup sebagai seorang nelayan menjalani hidup ini dengan penuh rasa terima kasih.

Dia melepas tali yang menghubungkan antara perahunya dengan pinggir pantai yang ia sangkutkan pada batang pohon kelapa. Sepanjang perjalanan tadi aku hanya bisa terdiam merenungi jalan hidup yang telah kujalani.

“Terima kasih pak, telah memberi pelajaran akan arti hidup pada saya. ”Seperti yang telah kuduga nelayan itu hanya tersenyum dan berucap “Terima kasih” sambil naik ke atas perahunya, kubantu mendorong perahunya ke arah laut.

“Apa setiap sore bapak ada disini?” Kusempatkan diriku bertanya, agar aku dapat bertemu dengannya kapanpun aku mau. “Mungkin ini kali terakhir aku berlayar, karena aku harus merawat istriku yang sedang sakit dan aku akan berdagang saja di sekitar kampung agar aku bisa selalu dekat dengan istriku. Terima kasih, mari anak muda, saya berlayar dulu.”  Nelayan itu pamit dan mulai mengayuh perahunya dengan perasaan penuh harap akan banyak hasil yang dapat dia tangkap untuk dibawanya pulang.

“Terima kasih ya pak” Aku berteriak sambil melambaikan tangan melepas kepergian nelayan itu, dan beliaupun membalas lambaian tanganku dengan anggukan di kepala sambil tersenyum.

Tanpa terasa hari sudah malam, waktunya aku kembali ke tempat kost, melanjutkan aktivitas sebagai seorang mahasiswa yang terancam DO, oh tidak kubuyarkan kata-kata itu. Aku hanya diberi kesempatan untuk menerima ilmu lebih banyak dibanding mahasiswa lainnya yang dapat lulus dengan tepat waktu.

Kini aku dapat tersenyum menghadapi masa depan karena yakin bahwa yang telah terjadi pada diriku merupakan bentuk kasihNya yang harus aku syukuri dan kujalani hidup ini dengan memberi kasih pada setiap sesama. Berusaha menjadi manusia yang baik dan selalu berpikir positif serta memiliki semangat hidup. Aku yakin dapat lulus tahun ini serta mendapat nilai yang baik, tentunya dengan usaha yang keras dan semangat hidup yang tinggi. Terima kasih Tuhan.

(MNC)

Mei 23, 2009

bulan mei yang melelahkan…

Filed under: Uncategorized — wimelimonica @ 6:45 am

bulan mei sibuk banget…

hari pertama di bulan mei amatlah indah..tapi tidak sesudahnya..kesibukan demi kesibukan mulai mewarnai hari2ku…huaaaa…lebay

minggu pertama disibukkan oleh persiapan olimpiade mahasiswa ipb (omi) yang semakin dekat. belum ada persiapan yang matang..hehehe

omi 3 minggu, naggota medis 35 orang,,hayo…bingung

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.