Wimelimonica's Blog

Mei 26, 2009

Terima Kasih

Filed under: cerpen — wimelimonica @ 6:52 am

Perlahan semuanya menjauh, bayang-bayang yang selalu hadir dalam hidupku hilang kini, yang nampak hanya wajah-wajah murung dan hampa tanpa suara. Entah kenapa hidupku kini tak berwarna, dengan langkah gontai ku telusuri jalan pantai ini. Senggigi yang sungguh indah dengan pasir putih lembutnya dipayungi indahnya langit sore hari. Diselingi semilir angin yang menyisir lembut kulitku.

Rasa takut menghantui pikiranku, masa depan yang menanti di depan mata, penantian orang tuaku di rumah yang berharap buah hatinya kembali ke peraduan dengan gelar sarjana di tangan dan selembar ijazah yang berisi nilai-nilai yang memuaskan.

Akan tetapi, semuanya hanya angan-angan yang tertinggal di belakang, mimpi-mimpi yang dulu kuukir telah musnah sekarang. Betapa tidak diriku sudah terlampau berumur untuk disebut mahasiswa, pendidikan empat tahun yang harusnya sudah kuselesaikan dua tahun kemarin kini hanyalah angan, apa yang dapat diharapkan oleh seorang mahasiswa yang terancam Drop Out (DO).

Hari ini kulupakan sejenak tentang mimpi burukku. Akh, buat apa terlalu dipikirkan selagi diri ini bisa menikmati hidup yang indah. Kuarahkan pandangankku ke depan, mataku menangkap sesosok nelayan yang sedang bersiap melaut. Kuhampiri nelayan itu, nampaknya sedang sibuk menyiapkan perahu yang akan dipakai untuk berlayar petang ini.

“Maaf pak, boleh saya membantu, bapak sepertinya sedang sibuk?” Dengan sopan aku menawarkan diri. Nelayan tersebut menoleh kearahku dan berkata, “Anak muda, boleh-boleh sekali, tolong saya mengencangkan tiang layar ini.” Kulihat tiang layarnya dan kucoba memenuhi perintahnya, “Oh, ini pakunya sudah karatan pak, harus segera diganti dengan yang baru.”Sambil kucoba membenahi tiang itu dengan segala cara yang bisa kulakukan.

“Iya de, sepertinya memang begitu, seharusnya tiangnya juga diganti karena sudah rapuh.

” Kulihat tiangnya memang begitu keadaannya, sudah sangat rapuh dan harus segera diganti, tak terbayangkan ketika sedang berlayar mencari ikan di tengah laut lalu tiangnya roboh, tak terbayangkan juga bahaya yang akan mengancam di tengah laut yang sepi

. “Kenapa tidak diganti saja dengan tiang yang baru pak?” Rona wajahnya langsung berubah, agak segan juga menanyakan hal itu padanya. Nelayan itu tersenyum hangat “Ya, memang niatnya nanti akan saya ganti tiang itu dengan yang baru, tapi nanti setelah istri saya keluar dari rumah sakit.” Demikian jawabnya, diriku agak tersentak mendengar hal itu, semakin tidak enak hati.

“Maaf pak.” Spontan aku meminta maaf padanya, tetapi nelayan itu lagi-lagi tersenyum hangat padaku.

“Terima kasih de, sudah mengingatkan dan ade tidak perlu meminta maaf pada saya.” Masih sambil membenahi perahunya dia berkata,”Hidup ini adalah terima kasih.” Aku masih mencerna kata-kata nelayan itu.

”Hidup ini terima kasih, apa maksudnya?” Nelayan itu kembali tersenyum,”Hmm…anak muda sudah maghrib rupanya, sudah waktunya bercinta dengan kekasih lekas kita ke surau di sebelah timur itu memenuhi panggilan sang kekasih.”Sesungguhnya aku masih bingung dengan maksud nelayan tadi, dengan rasa penasaran ku ikuti langkahnya menuju surau untuk menunaikan ibadah shalat maghrib yang sering kutinggalkan. Seusai berwudhu kami shalat berjamaah di surau yang kecil namun memberikan suasana hangat yang meneduhkan jiwa. Tanpa sengaja ku meneteskan air mata di tengah jalannya shalat, lantunan ayat suci yang dibacakan imam membuat hatiku bergetar dan membuatku tersadar betapa seringnya aku meninggalkan kewajiban ini.

Usai shalat, nelayan itu beranjak keluar surau menuju beranda, kuikuti langkahnya karena diriku masih penasaran akan maksud dari perkataan nelayan tadi. Kuhampiri beliau dan kutempatkan diriku tepat disampingnya,

“Alhamdulilah.” Nelayan itu bergumam. Rasa penasaran mengalahkan kesabaranku, aku mulai bertanya “Pak, apa maksud dari perkataan bapak tadi bahwa hidup itu adalah terima kasih?” Nelayan itu menoleh ke arahku lagi-lagi sambil menampakan senyumnya yang hangat, diawali dengan menghela napas, beliau mulai menjawab pertanyaanku.

“Sebelum saya menjawab pertanyaan adik, boleh saya tahu nama adik ini siapa?” Dengan segera kujawab “Nama saya Dirga pak”. Nelayan itu tersenyum sambil mengangguk.

“Hmm..Nama yang bagus”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Nelayan itu melanjutkan bicara, “Begini maksudnya anak muda, hidup ini terima kasih. Kita biasa mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah memberi kebaikan pada kita, tapi mengapa tidak ada terima kasih untuk sebuah musibah? Padahal kedua hal itu tidak jauh berbeda hanya prosesnya saja yang berbeda, suka cita adalah kebahagiaan yang kita terima secara langsung dan menyenangkan hati, lalu apa itu duka cita? Duka cita hanyalah suka cita yang terselubung, berasal dari sumber yang sama dengan sukacita yang menghasilkan air mata tapi juga melahirkan tawa.

”Kucermati benar-benar maksud dari nelayan itu. “Mengapa kita harus mengucapkan terima kasih juga pada musibah yang kita terima?” Masih agak sulit diriku mencerna maksud nelayan tadi.

“Ya, bukankah dukacita juga akan melahirkan tawa, hanya saja berbeda proses jalan yang ditempuh kebih rumit dan memerlukan kesabaran serta ikhtiar yang tiada henti. Dalam hidup ini, hanya kasihNya yang kita dapat baik itu dalam bentuk sukacita maupun dukacita. Yakinlah anak muda bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah perwujudan dari rasa cinta kasihNya pada makhluk ciptaaNya. Sebagai contoh ialah makanan yang kita makan setiap hari merupakan wujud cinta kasihNya, rasa lapar yang tak tertahan juga merupakan bentuk cinta kasihNya, Dia ingin kita dapat merasakan rasa lapar yang sering dirasakan oleh manusia yang biasa tinggal di pinggir jalan dan di bawah jembatan. Secara tidak langsung Dia mengajarkan kepekaan hati dan rasa cinta kasih pada sesama. Keberhasilan yang kita raih merupakan bentuk kasihNya, sama halnya dengan kegagalan, juga merupakan bentuk cinta kasihNya pada kita. Begitulah anak muda.”

Nelayan itu menyudahi penjelasannya dan sekaligus membuyarkan renunganku tentang hidupku selama ini yang sudah hampir hancur. Nelayan itu beranjak dari tempatnya semula lalu berjalan menuju perahunya, kubuntuti dari belakang. “Nah, anak muda sudah waktunya saya berlayar menjalani peran hidup sebagai seorang nelayan menjalani hidup ini dengan penuh rasa terima kasih.

Dia melepas tali yang menghubungkan antara perahunya dengan pinggir pantai yang ia sangkutkan pada batang pohon kelapa. Sepanjang perjalanan tadi aku hanya bisa terdiam merenungi jalan hidup yang telah kujalani.

“Terima kasih pak, telah memberi pelajaran akan arti hidup pada saya. ”Seperti yang telah kuduga nelayan itu hanya tersenyum dan berucap “Terima kasih” sambil naik ke atas perahunya, kubantu mendorong perahunya ke arah laut.

“Apa setiap sore bapak ada disini?” Kusempatkan diriku bertanya, agar aku dapat bertemu dengannya kapanpun aku mau. “Mungkin ini kali terakhir aku berlayar, karena aku harus merawat istriku yang sedang sakit dan aku akan berdagang saja di sekitar kampung agar aku bisa selalu dekat dengan istriku. Terima kasih, mari anak muda, saya berlayar dulu.”  Nelayan itu pamit dan mulai mengayuh perahunya dengan perasaan penuh harap akan banyak hasil yang dapat dia tangkap untuk dibawanya pulang.

“Terima kasih ya pak” Aku berteriak sambil melambaikan tangan melepas kepergian nelayan itu, dan beliaupun membalas lambaian tanganku dengan anggukan di kepala sambil tersenyum.

Tanpa terasa hari sudah malam, waktunya aku kembali ke tempat kost, melanjutkan aktivitas sebagai seorang mahasiswa yang terancam DO, oh tidak kubuyarkan kata-kata itu. Aku hanya diberi kesempatan untuk menerima ilmu lebih banyak dibanding mahasiswa lainnya yang dapat lulus dengan tepat waktu.

Kini aku dapat tersenyum menghadapi masa depan karena yakin bahwa yang telah terjadi pada diriku merupakan bentuk kasihNya yang harus aku syukuri dan kujalani hidup ini dengan memberi kasih pada setiap sesama. Berusaha menjadi manusia yang baik dan selalu berpikir positif serta memiliki semangat hidup. Aku yakin dapat lulus tahun ini serta mendapat nilai yang baik, tentunya dengan usaha yang keras dan semangat hidup yang tinggi. Terima kasih Tuhan.

(MNC)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: